Perasaan kita seringkali berubah-ubah. Kadang hati terasa senang, disaat yang lain hati terasa sedih. Seperti Roller Coaster yang selalu berpindah-pindah, kadang diatas dan kemudian meluncur kebawah. Perubahan emosi ini bisa terjadi dalam waktu sehari, atau bahkan berhari-hari.
Ketika kita melihat di Televisi atau koran tentang orang-orang yang kehilangan rumah dikarenakan penggusuran atau bencana gempa bumi, kita merasakan sedih dan terkadang sangat sulit bagi kita untuk menaikkan kembali perasaan bahagia. Kita ber-empati terhadap kesusahan dan penderitaan orang lain.
Tapi sangat tidak elok apabila dalam waktu sehari penuh tenggelam dalam kesedihan dan merusak produktivitas kita. Beberapa aktivitas yang harusnya diselesaikan secara cepat menjadi tertunda atau bahkan tidak terlaksana.
Apabila direnungkan, seringkali kebahagiaan kita lebih banyak dipengaruhi oleh faktor luar diri kita. Jika keadaan ekonomi membaik orang akan bahagia, jika harga barang-barang terkontrol orang akan tersenyum, jika keamanan lingkungan terjaga perasaan kita menjadi tentram. Sebaliknya, apabila hal-hal tadi berlainan dengan keinginan kita, maka level kebahagiaan kita akan turun.
Beberapa buku populer menyarankan apabila kondisi emosi kita sedang tidak baik, maka berpura-puralah bahagia… dengan asumsi, apabila kita terus-menerus mengirimkan sinyal bahagia terhadap alam bawah sadar kita, maka emosi kita akan terbawa. Atau menyarankan mengambil obat-obatan untuk menaikkan level kebahagiaan kita.
Kalau diperhatikan dengan seksama, cara-cara diatas cenderung lebih menekankan pada diri kita atau bahasa gaulnya “egois”. Ada cara-cara yang terbukti secara klinis dapat meningkatkan tingkat kebahagiaan kita. Cara tersebut salah satunya adalah dengan berfokus memberikan perhatian kepada orang lain. Anda harus melakukan sesuatu misalnya, membagi makanan anda dengan tetangga, tersenyum kepada pelayan toko, memberikan pujian kepada pasangan, membantu menyeberangkan manula dll.
Salah satu jurnal di British Medical mengungkapkan perlunya untuk bersosialisasi. Cara ini secara signifikan dapat meningkatkan level kebahagiaan kita. Penjelasan mengenai hal ini adalah kita secara emosional terikat dengan orang lain, apabila kita berkomunikasi atau bahkan bercengkerama dengan orang yang yang lebih bahagia, maka emosi kita akan tertular. Neuron dalam otak kita mudah menangkap sinyal-sinyal kebahagiaan yang di dipancarkan oleh orang-orang sekeliling kita.
Seorang Sosiolog dari Universitas Harvard, Pitrim Sorokin mengungkapkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki sifat altruism yang kuat dalam pikiran. Sifat altruism ini artinya lebih mementingkan orang lain daripada kepentingannya sendiri. Kesejahteraan orang lain akan didahulukan daripada kesejahteraan pribadi. Definisi lain mengartikan altruism adalah tindakan membantu orang lain secara sukarela tanpa mengharapkan imbalan apapun. Sifat altruism ini merupakan lawan dari sifat egois yang mementingkan diri sendiri.
Apalagi apabila sifat menolong ini didasari sikap ikhlas. Mendasari perbuatan baik semata-mata karena Allah, dan tidak mengharapkan imbalan atau balasan kecuali dari Allah semata.